Beranda / Politik

Tri Rismaharini, Prestasi yang Dicemari Dua Kisruh


Banyak yang beranggapan Walikota Surabaya Tri Rismaharini cukup pantas dicalonkan oleh PDIP sebagai capres tahun 2014 ini selain Gubernur DKI, Joko Widodo dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Ketiganya adalah simbol politisi muda PDIP yang dipandang cakap dan berhasil dalam mengelola daerahnya. Sah-sah saja pandangan seperti itu. Apalagi kalau yang mengataknnya dari internal PDIP sendiri, mustahil mereka menyebut ARB atau Prabowo sebagai capres potensial untuk diajukan partai.

Tetapi khusus Tri Rismaharini yang menjabat sebagai walikota Surabaya periode 2010-2015 ini, dalam pandangan saya, benarkah dia pantas dimajukan oleh PDIP dengan alasan keberhasilannya memimpin Surabaya? Sekali lagi, tentu pantas bagi PDIP tapi belum tentu pantas bagi partai lain. Pantas bagi warga Surabaya dan sebagian Jawa Timur, namun lebih pantas walikota Palembang bagi warga Sumsel. Setidaknya pemikiran awam yang masih terjebak isu kedaerahan begitu.

Dari sini, predikat  pantas atau tidak pantas itu tergantung dari siapa yang menilai dan pihak mana yang mempromosikan, dan tentu saja siapa yang akan diuntungkan dengan pencalonan tersebut. Tapi dalam tulisan ini saya tidak akan memasuki wilayah tersebut.

Saya sendiri secara khusus tidak mengenal prestasi Tri Rismaharini. Prestasinya hanya hanya dikenal dan berlaku bagi warga Surabaya saja. Kalau ditarik ke ranah lain, prestasi walikota saya juga cukup banyak. Cuma karena termasuk kota kecil maka jarang diliput media. Mestinya walikota saya juga pantas dicalonkan sebagai capres 2014. Walikota Bandung juga pantas. Bogor pantas. Dari Sabang sampai Merauke juga pantas. Tergantung siapa yang ‘memantas’ dan ‘mementas’-kannya. Bukankah begitu?

Bukan berarti saya menolak pencalonan Risma. Tak ada gunanya bagi saya melakukan itu. mempromosikannya pun tidak ada manfaatnya. Saya lebih suka mempromosikan Jokowi dari pada Ganjar walau levelnya sama-sama gubernur. Tetapi tak tertutup kemungkinan nanti kita semua turut andil mempromosikan Risma dalam berbagai tulisan atau obrolan warung kopi dengan syarat Ibu walikota ini berhasil mengatasi dua kisruh yang justeru kini sudah familiar di telinga publik. Syarat ini tergolong sederhana dan bebas anggaran negara.

Syarat satu, Risma berhasil menyatukan kembali persebaya yang kini terpecah menjadi dua klub agar terhindar gesekan suporter di kotanya sendiri.

Syarat dua, Risma berhasil mengatasi kisruh Kebun binatang Surabaya (KBS) tanpa perlu minta bantuan KPK.

Sebab, menurut berita yang dikutip dari sini, Risma akan melaporkan kisruh pengelolaan satwa di KBS ke KPK dan mengatakan pihaknya sedang menyiapkan data yang dibutuhkan terkait dengan pelaporan tersebut terutama berkaitan dengan persoalan di tubuh manajemen Kebun.

Makanya kita bingung. Ingin mengatasi kisruh pengelolaan dan manajemen kok lapor KPK? Kenapa nggak sekalian kisruh administarsi, pengelolaan dan manajemen duo Persebaya dilaporkan ke KPK? Nggak lucu, ah. Mengatasi kisruh kok minta bantuan pihak yang tak berwenang. Mau dibawa kemana negara kita yang punya ribuan kisruh ini oleh ibu Risma kalau dua kisruh pokokdiSurabaya saja tak mampu diselesaikan?

Bagi saya, seorang pemimpin bukan hanya dinilai dari kinerjanya membangun fasilitas bagi warganya, tapi juga bagaimana kepiawaiannya mengatasi kisruh internal tanpa melibatkan pihak lain. Percuma saja kalo fasilitas lengkap tapi gagal mengatasi kisruh. Jangan-jangan fasilitas tadi habis dirusak oleh mereka yang berkisruh. Apa gunanya membangun stadion di atas pasir laut?

Referensi :

Risma laporkan Kisruh KBS ke KPK Besok


Dibaca : 252 kali
Penulis : erwin alwazir
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.

Back to Top | View Full Site