Politik

Apa Visi Misi Prabowo Subianto?

Gedang Kepok

14 Jan 2014 | 07:14

Prabowo, mantan Danjen Kopassus dan mantan menantu Suharto itu mencalonkan diri. Banyak orang semakin ragu mengingat latarbelakangya yang dramatis--penuh intrik dengan kekuasaan. Namun yang lebih meragukan lagi adalah ketidakjelasan visi dan misi-nya bagi Indonesia. Kalaupun ada, mungkin belum secara luas disosialisasikan atau lebih buruk lagi visi dan misi itu tidak selaras dengan apa yang telah dilakukan Prabowo sebelumnya. Dalam tulisan ini, saya mau memaparkan sebab-sebab keburaman visi dan misi Prabowo sehingga pamornya semakin suram.

Pertama-tama adalah beban sejarah bahwa dirinya dulu adalah menantu Suharto. Sebagai tentara Prabowo berhutang pada Suharto yang telah membuatnya menjadi salah satu tentara yang menjulang pangkat dan pengaruhnya dalam waktu yang cukup cepat. Selain faktor pribadi, faktor Suharto-lah yang telah memberikan jalan tol bagi Prabowo. Kesetiaannya pada Suharto menjelang turun tahta  memang diragukan tetapi bukti bahwa Tim Mawar bergerak clandestine untuk membungkam musuh-musuh Suharto tak bisa dilupakan. Bahkan dalam masa-masa chaos 1998 itu, perannya pun juga gelap. Rakyat tidak tahu cerita sesungguhnya karena banyak versi dan banyak cerita yang menyelimuti.

Pasca Suharto, Prabowo menjadi pihak yang kalah dan terpaksa lari ke luar negeri. Lalu kembali dan mendirikan Girindra dengan cita-cita besar membangun Indonesia Raya. Visi kebangsaan yang didapatnya dari militer tampak nyata. Visi kebangsaan ini disandingkan dengan visi kerakyatan yang kental. Untuk menancapkan visi kerakyatan ini, Prabowo bahkan menjadi ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) meskipun dia tidak ada konsep pembangunan pertanian dan pemberdayaan petani.

Benar dia memiliki ranch besar dan kuda banyak. Benar bahwa Prabowo adalah pengusaha kaya. Namun sepak terjangnya di HKTI, tidak pernah benar-benar memihak petani.  Namun demikian, pada saat ia bersama Mega, Prabowo dan Gerindra cukup berhasil dengan pencitraannya sebagai pemimpin nasionalis sekaligus punya visi kerakyatan ini. Bahkan ia pernah dijuluki Sukarno kecil karena gaya pidatonya yang berapi-api dalam iklan.

Visi kerakyatannya pada waktu itu terbukti hanya jargon kosong belaka. Kalau kita lihat, ayahnya adalah tokoh PSI yang pro liberalisme barat dan menentang Sukarno. Karena itulah, kalau Prabowo mengambil visi kerakyatan seperti yang diajarkan Bung Karno, dia hanya ingin menghilangkan rekam jejaknya yang pro Suharto. Seperti halnya kisah kelam penculikan, korban yang masih hidup dirangkulnya dan diberi tempat di partainya. Mungkin bukan karena penyesalan yang mendalam, tetapi lebih untuk memulihkan namanya.

Sekali lagi, terbukti visi kerakyatan Prabowo seperti yang diajarkan Bung Karno ini hanya lip service saja. Saat dirinya dipastikan bakal bersaing dengan jago dari PDIP, visi kerakyatan-nya tidak terdengar lagi. Terlebih lagi, kita tidak pernah tahu apa yang dilakukan Prabowo saat ia menjadi ketua HKTI.  Prabowo tidak pernah menyuarakan keprihatinan dan pembelaannya pada petani secara langsung. Kita jadi tahu, Prabowo tidak sungguh-sungguh punya concern pada petani.

Mungkin mimpinya besar, ingin membangun Indonesia Raya. Namun mimpi itu kosong belaka karena kita tidak pernah melihat dan mendengar Prabowo mengumumkan strateginya ataupun melakukan tindakan-tindakan nyata selain membela TKI di Malaysia. Yang kita lihat adalah Prabowo yang selalu sibuk memperbaiki citra masa lalunya. Tidak ada suaranya menentang korupsi yang merajalela! Tidak ada suaranya tentang bagaimana ia akan memperbaiki penegak hukum di Indonesia--yang kita tahu, banyak yang bisa dibeli (utama-nya polisi).

Visi dan misi yang samar inilah yang membuat Prabowo makin pudar ... senasib dengan pendahulunya yang sekarang menjadi bebek lumpuh Indonesia.

Salam Kompasiana! Salam Merdeka!

Dibaca : 4763 kali

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.

ARTIKEL TERKAIT