Penghijauan

Penghijauan Lahan Bekas Tambang Batu Bara

Titis Apdini

31 Dec 2013 | 12:49

13884677171436540127Lahan Pasca Tambang Batu Bara (Dokumentasi Pribadi)

Sektor pertambangan memberikan kontribusi terhadap pembangunan regional sehingga dapat menjadi penggerak roda perekonomian. Salah satu komoditas pertambangan terbesar di Indonesia adalah batu bara. Sebagai sumber daya yang menghasilkan energi, batu bara dipandang sebagai sumber energi masa depan pasca minyak, dan mempunyai nilai jual yang berpotensi untuk memenuhi kebutuhan energi di dunia. Di sisi lain perusahaan pertambangan sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan aspek ekonomi saja, akan tetapi juga aspek sosial dan lingkungan sehingga menjadi sektor usaha yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Teknik penambangan dengan sistem terbuka (open mining system) yaitu pengambilan batu bara dari permukaan tanah, tidak melalui terowongan, menyebabkan degradasi lahan akibat pengupasan lapisan tanah yang bersifat subur (top soil), munculnya lapisan bahan induk yang tidak subur, timbulnya lahan masam dan garam-garam yang dapat meracuni tanaman, rusaknya bentang alam, serta terjadinya erosi dan sedimentasi. Kerusakan vegetasi tersebut dapat berdampak pada iklim mikro di sekitar lokasi pertambangan. Penggunaan lahan dalam kegiatan pertambangan batu bara dengan sistem terbuka ini bersifat sementara, oleh karena itu lahan pasca lambang dapat digunakan untuk kegiatan produktif lainnya.

Salah satu aktivitas yang dapat dilakukan untuk reklamasi kerusakan vegetasi akibat aktivitas pertambangan adalah budidaya tanaman pakan ternak. Langkah ini diambil dengan alasan utama yakni selain memperbaiki kerusakan vegetasi, tanaman pakan dipilih karena tidak langsung dikonsumsi manusia. Lahan pasca tambang masih mengandung residu logam berat sehingga dikhawatirkan apabila lahan tersebut digunakan untuk budidaya tanaman pangan akan berbahaya bagi kesehatan. Selain itu, tanaman penutup tanah jenis legum dan rumput dapat mengendalikan erosi dan aliran permukaan tanah. Hasil pangkasan dapat digunakan sebagai mulsa untuk mengurangi evaporasi, menghambat naiknya garam-garam ke permukaan tanah, dan memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah.

Beberapa jenis tanaman legum yang dapat digunakan antara lain adalah Centrosema pubescens, Peuraria javanica, dan Calopogonium mucunoides serta untuk rumput antara lain Vetiveria zizanoides, Paspalum sp., Brachiaria decumbens, dan Panicum maximum. Lahan pasca tambang batubara memiliki kandungan hara kurang, oleh karena itu perlu dilakukan usaha pemupukan dengan tujuan menyuburkan lahan tersebut. Salah satu contoh aplikasi peningkatan nilai guna lahan pasca tambang untuk produksi tanaman hijauan pakan adalah penanaman tanaman pakan yang dapat tumbuh cepat menutupi lahan bekas galian tambang batubara yang terletak di Desa Jonggon, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur.

Budidaya tanaman pakan tersebut diiringi dengan usaha pemeliharaan sapi potong secara ekstensif yaitu ternak digembalakan di padang rumput. Berdasarkan hasil uji sampel daging sapi hasil pemeliharaan di lahan pasca tambang, residu logam berat seperti cadmium, timbal, tembaga, dan seng berada di bawah batas maksimum residu yang ditetapkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sehingga aman untuk dikonsumsi.

Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, luasan lahan bekas tambang batu bara yang masih terbuka mencapai 36.877 hektar pada tahun 2005 lalu di seluruh Indonesia. Apabila pengelolaan lahan bekas tambang untuk budidaya tanaman pakan dilakukan dengan baik, tentunya ini akan menjadi potensi bagi usaha peternakan sebagai sektor yang berperan dalam suplai protein hewani untuk mendukung ketahanan pangan nusantara.

Dibaca : 293 kali

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.