Catatan Harian

Serigala, Rusa dan Kematian

Chuang Bali

10 Jan 2014 | 16:47




Barangkali selama ini sebagian besar dari kita hanya tahu bahwa serigala adalah binatang yang kejam, licik, dan jahat. Seperti ular, serigala diperlakukan sebagai binatang dari neraka, bahkan mungkin malah serigala itulah setan yang menyamar jadi binatang. Anggapan seperti itu bisa dipahami mengingat sedari kecil kita telah disuguhi oleh cerita-cerita tentang serigala sebagai tokoh antagonis. Hanya dalam sedikit kebudayaan saja serigala dihormati sebagai binatang yang sesungguhnya amat cerdas, penyayang keluarga, setia kawan, dan pemburu yang luar biasa. Seperti misalnya dalam kebudayaan Mongolia. Percayakah Anda jika disebutkan bahwa Jengis Khan dulu mampu menaklukkan dunia karena dia dan rakyatnya banyak belajar dari para serigala?

ads

Dari sebuah novel, Woft Totem, yang ditulis berdasarkan kisah nyata pengalaman penulisnya sendiri, saya mengetahui sedikit banyak fakta kehebatan serigala. Dan satu hal dari novel itu yang amat mengesankan saya adalah tentang bagaimana cara serigala berburu rusa.

ads

Ketika segerombolan serigala memutuskan untuk memburu kawanan rusa, pemimpin mereka akan memandu kawanannya ke sebuah padang rumput tempat di mana para rusa berkumpul untuk makan. Mereka tidak langsung menyerbu begitu saja karena mereka sadar dalam hal kecepatan lari mereka akan kalah oleh para rusa itu. Jadi, dengan sabar mereka mengintai dari balik rerumputan yang tinggi dan dari jarak yang cukup jauh, menunggu para rusa itu makan sepuas-puasnya, diam hening nyaris tanpa bergerak selama berjam-jam agar buruan mereka tak menyadari bahaya yang sedang mengintipnya. Dan sementara para serigala mengintai, beberapa rusa dengan bodohnya makan sampai perut mereka kenyang kembung seperti balon, tapi beberapa yang lain cukup cerdas dan eling untuk hanya makan secukupnya.

ads

Ketika para rusa bodoh telah makan sekenyang-kenyangnya, saat itulah dengan serentak para serigala menyerbu. Dan karena perutnya terisi penuh, rusa-rusa itu tak mampu berlari. Sebagian dari mereka langsung jatuh lemas, sebagian lagi berusaha lari tapi sia-sia saja. Tanpa kesulitan berarti para serigala bisa berpesta daging rusa gemuk yang masih segar dengan rumput belum tercerna sempurna dalam perut-perutnya.

ads

Sangat luar biasa, bukan, cara para serigala berburu? Amat cerdas, taktis, terorganisir dengan baik, dan sabar menunggu momentum yang tepat.

ads

Dalam renungan saya, para serigala bisa diumpamakan sebagai dewa kematian. Dan rusa-rusa itu adalah kita, padang rumput adalah dunia ini. Sebagian dari kita begitu bodohnya, terlena, mabuk oleh kesenangan-kesenangan duniawi sampai tak waspada pada dewa kematian yang sedang mengintai, menunggu kita “makan” sekenyang-kenyangnya dan setelah itu menyerbu masuk untuk “membantai” kita. Sebagian lagi, dan biasanya minoritas, cukup sadar untuk selalu ingat bahwa kematian dapat datang kapan pun, dan karena itu mereka menggunakan kesempatan terlahir sebagai manusia dengan sebaik-baiknya untuk mengembangkan kebajikan dan kebijaksanaan. Dan dengan bekal kebajikan dan kebijaksanaan itu, meskipun dalam kehidupan ini belum mampu melarikan diri dari raja kematian, pada akhirnya kematian tak dapat lagi menangkap mereka. ads((Dikutip dari buku MATI ITU PASTI, Chuang, Yayasan Ehipassiko www.ehipassiko.net)

Dibaca : 41 kali

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.