Busana Gypsy


Gypsy" kata Aira.

Dinda melotot melihat Aira. Tidak terlihat ekspresi pada raut wajah Aira. Wajahnya tanpa emosi sedikit pun.

"Kamu ingin menjadi seorang peramal? Seorang pemain sirkus?" rentetan pertanyaan Dinda.

"Aku ingin anggun, ingin feminim, ingin cantik" rentetan jawaban Aira.

Dinda bertanya-tanya pada dirinya sendiri dengan melihat perubahan yang terjadi pada Aira. Aira yang dia kenal adalah seorang yang sangat tomboy, tidak pernah sekali pun Dinda melihat Aira memakai rok selain waktu SMA yang memang wajib menggunakan seragam rok abu-abu.

"Aku sudah kenal dari SMA. Jampir setiap hari selama tujuh tahun bareng-bareng, kenapa anehnya baru sekarang???" pikir Dinda serius.

"Ha...ha...ha... Kenapa bisa begitu?" Doni tidak kalah terkejutnya dengan Dina ketika Dinda memberitahu.

Melihat respon Doni, Dinda menghela nafas.

"Kali aja Aira jatuh cinta terus dia ingin terlihat cantik" kata Doni kemudian.

"Kenapa yang dipilihnya harus pakaian Gypsy?" kata Dinda.

"Memang harus bagaimana? Harus pakai kebaya gitu? Harus pakai jilbab ayau pakai cadar?" Doni balik tanya.

"Itu lebih bagus kalau dia pakai jilbab, lebih kelihatan islaminya" kata Dinda.

Doni melirik Doni lalu bersiul.

"Doni!" Dinda mencopot sandal jepitnya dan dilempar ke arah Doni yang sedang berlari menghindari.

Dinda memakai rok mini di atas dengkul yang melihatkan sebagian banyak auratnya.

***

Ada aroma wangi yang dicium oleh Aira dari salah satu toko minyak wangi yang dilewatinya. Aira menghentikan jalannya dan tergoda untuk masuk ke dalam toko. Melangkahkan kaki ke dalam toko seorang pelayan toko minyak wangi mempersilahkannya untuk masuk Aira membalas senyuman manis pelayan toko yang mempersilahkannya untuk masuk.

Di dalam toko minyak wangi Aira melihat minyak wangi yang berjejer di dalam rak toko. Seorang pelayan toko lainnya melayani Aira. Aira mencoba sample beberapa minyak wangi.

"Hmmm... Aku ambil yang jasmin aja deh mbak, aku suka aroma jasmin" kata Aira.

Pelayan toko langsung mengambilkan minyak wangi yang diminta Aira dan langsung mengemasnya. Aira membayar sejumplah harga minyak wangi yang dibelinya lalu pergi.

"Terimakasih atas kunjungannya, sampai jumpa kembali" ucapan oekayan toko pada Aira.

Usai membeli minyak wangi, Aira mengelilingi mall lagi. Dia masuk ke setiap toko pakaian, berharap mendapatkan pakaian Gypsy yang dia cari.

"Silahkan" kata seorang cici-cici yang berdiri di depan tokonya.

Aira tertarik untuk masuk dan melihat-lihat.

"Kebanyakan sekarang suka baju-baju korea yang seperti ini. Ini bagus loh, cantik kalau di pakai" kata cicinya yang menawarkan dagangannya.

Aira gengsi untuk langsung keluar dari toko, dari tadi dia di perhatikan sementara apa yang dicarinya tidak ditemukan. Dia menunggy pembeli lain yang masuk ke dalam toko. Setelah ada beberapa orang yang masuk ke dalam toko Aira lngsung ambil ancang-ancang.

"Ci terimakasih ya?" Aira langsung pergi.

Si cici yang sudah tahu gelagat pelanggan seperti Aira tetap ramah menanggapi "Sampai jumpa kembali".

Tidak mendapat apa yang dicari, Aira langsung pulang ke rumah. Sesampai di rumah Aira memperhatikan mamanya yang baru saja pulang dari kantor. Aira mengagumi kecantikan mamanya yang sangat feminim dan selalu memakai jilbab.

Aira sangat senang ketika melihat mamanya tersenyum. Gigi mamanya sangat rapi oleh kawat gigi yang dipakai mamanya. Aira mengagumi penampilan mamanya yang tidak pernah ketinggalan model tapi untuk urusan busana Gypsy-nya Aira tidak terinspirasi oleh mamanya. Dia juga tidak berniat menyaingi keanggunan mamanya.

Aira kemudian membayangkan wanita-wanita Gypsy lagi. Dimana wanita Gypsy selalu memakai rok panjang, dandanannya khas, rambut terusai tebal, make up mata medok. Aira sangat tertarik dengan busana wanita Gypsy. Dia melihatnya anggun dan cantik. Dia tidak melihat dari segi apa pun, seperti pekerjaan orang-orang Gypsy yang kebanyakan adalah peramal bola kristal dan bermain sirkus.

***

"Aira! Kamu gila ya? Waras gak kamu?" celetuk Dinda ketika melihat Aira datang ke kampus membawa pakaian Gypsy.

"Menurutmu?" kata Aira.

"Ih!!!" Donda kesal melihat Aira.

Beberapa saat kemudian.

"Kamu bisa memakai pakaian harajuku, pakaian korea atau apa aja. Jilbab kek yang lebih bagus, kenapa harus Gypsy?" kata Dinda.

"Pakaian wanita Gypsy sangat indah, anggun, warnanya menarik dan feminim kalau aku ingin memakai jilbab aku tinggal mengenakan kerudung" kata Aira.

"Kamu ingin bernasip seperto orang Gypsy yang hidup selali mengembara, pindah kesana kemari? Kamu tahu gak orang-orang Gypsy itu selalu mendapat tudingan miring. Hidup merekaitu tidak mau berbaur dengan masyarakat dan suka mengisolasi diri. Bahkan di negara barat mereka dianggap warga kelas dua atau sampah masyarakat. Kamu mau dianggap seperti itu" kata Dinda.

"Dinda cukup ya?! Kamu keterlaluan jika demikian. Biarkan aku memilih gaya pakaianku seperti juga kamu memilih gaya berpakaianmu yang serba terbuka da memperlihatkan lekuk tubuhmu. Aku menyukai pakaian wanita Gypsy bukan berarti aku mengikuti prinsip dan kehidupan orang Gypsy. Thanks untuk semuanya" Aira langsung pergi dari hadapan Dinda.

Aira duduk sendirian di tamn kampus. Tidak berapa lama kemudian dia melihat seorang temannya yang baru datang dengan mengenakan pakaian badut. Temannya tersebut menghampiri Aira dan langsung duduk di samping Aira.

"Pak Jono ada?" tanya Andre teman Aira yang baru saja menghampiri dan duduk di sebelahnya.

"Gak ada, kosong" jawab Aira datar.

Andre membuka pakaian badutnya.

"Jadi badut dimana?" tanya Aira.

"Itu di samping warung depan kampus, anaknya cara ultah. Lumayanlah dapat rezeki hehehe..." Andre riang.

Beberapa saat kemudian.

"Ndre, boleh aku tanya?" tanya Aira.

"Yup, apa?" kata Andre sembari menoleh ke Aira.

"Apa alasanmu kalau ditanya kenapa kamu memakai pakaian badut?" tanya Aira.

"Singkat saja karena kebutuhan uang dan aku suka menghibur anak-anak" jawab Andre "Kenapa?"

Aira tersenyum "Thanks ya?"

"Kamu kemana?" tanya Andre melihat Aira yang langsung pergi.

Sehari kemudian Andre melihat Aira dengan pakaian yang sama. Yang berbeda hanyalah dia lebih terlihat ceri dari pada hari sebelumnya dan dia nyaman dengan dirinya sendiri.

"Gak ribet apa ini bocah?" Andre kaget melihat pakaian Aira yang baru saja disadarinya "Lnngit dan bumi dari pada pakaiannya sebelumnya".

"Cukup lihat aku sevagai pribadi aku. Jangan melihat aku dari sudut lain" kata Aira.

Aira sudah mantap memakai pakain Gypsy dalam kesehariannya. Meski banyak oang yang beranggapan aneh melihatnya, dia tetap percaya diri.

"Sungguh aku ingin pingsan melihat Aira" kata Dinda.

Doni tertawa "Itu sudah menjadi pilihannya, hormatilah pilihannya seperti kamu menghormati pilihanmu sendiri dalam berpakaian".

Dinda menghela nafas.

Dinda memandangi taman yang ada di depan matanya. Dia mengambil kamera dan mau memotret sesuatu tapi ternyata dia lupa membawa memori.

"Ampun deh memorinya tertinggal di rumah" kata Dinda.

"Ini pakai kameraku dulu" kata Doni.

Dengan memhhumalam lamera Dpni, Dinda mengambil beberapa objek untuk dofoto dan tiba-tiba dia melihat AIra datang menghampirinya. Dia tidak melewatlan kesempatan untuk memotret Aira dengan pakaian Gypsy.

"Sempuran" Dinda puas dengan hasil potretannya.

"Kerennnnnnnnnnnnn... Sumpah" kata Doni.

"Yuk makan" ajak Aira pada Dinda dan Doni.

Aira, Dinda dan Doni akhirnya meninggalkan taman kampus. Mereka tidak membahas pakaian lagi selain lapar, mie ayam dan acara ke puncak akhir pekan nanti.

Doni tertawa melihat baju Dinda terkena saos yang di tuangkannya sendiri. Aira dengan tenaga kuda langsung menhabiskan mie ayamnya karena dari pagi dia memang belum sarapan. Andre datang menghampiri Aira, Dinda dan Andre setelah di telepon oleh Aira.

Dua tahun kemudian setelah mereka lulus kuliah. Doni bekerja sebagai fotografer. Dinda bekerja sebagai jurnalis. Aira  menjadi seorang desainer yang juga menyewakan pakaian-pakaian Gypsy-nya yang sudah tidak di pakainya lagi untuk kebutuhan pemotretan, prewed, karnaval dan keperluan yang lain. Lain dari Dinda, Doni mau pun Aira, Andre sekarang malah bekerja sebagai guru dan masih melanjutkan pendidikannya dan dia masih saja menekuni pekerjaannya sebagai badut meski pun kadang dia dengan senang hati suka rela menghibur anak-anak.


Dibaca : 62 kali
Penulis : Anik Yulianita
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.

Artikel Terkait

Tidak ada artikel yang terkait

Back to Top | View Full Site