Politik

“Ini Alasan Saya Mengapa Benci PKS & Lovers”

Aneppaoji

09 May 2013 | 10:09

Sangaja saya mencantumkan tanda petik di judul tulisan ini, karena itu sejatinya bukan ungkapan dari saya. Saya hanya menyimpulkan dari beberapa postingan para Kontra PKS & Lovers yang  gusar terhadap akun-akun narsis model PKS & Lovers yang isinya menurut mereka, narsis, penuh puja-puji serta tidak menggunakan logika menulis hebat dan cenderung reaktif.

Berikutnya, argument tulisan kontra PKS & Lovers, kebencian mereka didasari pada postingan PKS & Lovers yang selalu menjual partai atas nama agama. Tidak cukup di situ, istilah-istilah PKS & Lovers menjadi cibiran hingga dalam kadar tertentu nampak konyol dan kekanak-kanakan. Misalnya dengan kebiasaan PKS & Lovers yang sering menggunakan Bahasa Arab, tanpa sedikitpun menggugat jika ada tulisan yang didominasi istilah selain Bahasa Indonesia.

Saran dari akun Kontra PKS & Lovers, tutup akun PKS & Lovers karena dianggap tidak memenuhi syarat hidup di Kompasiana. Malah seorang Kompasioner menganalisis point-point “ayat suci” peraturan di Kompasiana. Ia pun menyimpulkan, Kompasiana tidak cocok untuk akun-akun berisi tulisan tentang partai politik terutama PKS.

Dari argument Kontra PKS & Lovers saya ingin menyampaikan beberapa hal. Cobalah anda berdiri di antara keduanya, tidak berpihak pada PKS & Lover atau pada Kontra PKS & Lovers. Saya yakin anda akan mendapat persepsi baru tentang perdebatan yang terjadi. Bahkan bisa jadi anda geli tersenyum sendiri. Anda bisa menyaksikan, argument para pecinta dan kontra, adakalanya sama-sama kekanak-kanakan atau adakalanya sama-sama bijak melebihi para pandita.

Bahwa benar Kompasiana tidak  pantas untuk kampanye partai politik, tetapi harus diakui, para penghuni kompasiana tidak lepas dari muatan politis, suku, ras juga agama. Bahwa setiap argument yang melatar belakangi seseorang, itu sah-sah saja dimunculkan. Bedanya, hanya pada apakah sebuah argument itu dianut semua pihak atau tidak. Sebuah argument tidak akan muncul bila semua seragam dalam satu pemahaman. Misalnya, Kompasiana khusus buat penulis Jokowi & Ahok Lovers tidak untuk yang lain. Tidak terbayang hasilnya, semua tulisan bersisi puja-puji, tanpa kritik atau tanpa dinamika. Jika demikian, tak ada bedanya dengan akun-akun narsis model PKS & Lovers.

Doktrin HAM, humanisme, demokrasi dan nilai agama, tidak lepas dari argument seseorang. Setiap istilah yang dimunculkan akan memiliki konsekuensi dan muatan tertentu. Hanya saja, kini giliran istilah HAM dan demokrasi yang memiliki banyak pengikut, dan giliran terminologi agama didakwa sebagai biang kerok. Tetapi tidak demokratis juga jika pengikut demokrasi atau humanisme memvonis nilai yang lain busuk. Itu tidak ada bedanya dengan seseorang atau anggota partai yang selalu kampanye bahwa “kecapnya paling baik”.

Maka amat lugunya ketika Kompasioner atas nama HAM dan demokratisasi teriak-teriak mendesak admin untuk menutup akun-akun PKS & lovers atau akun yang tidak sepaham dengan pendapatnya. Jangan-jangan, kedepan setiap akun yang tidak sama dengan alur pikiran Kompasioner mainstream, semuanya minta dibredel. Kalau begitu, kita kembali pada zaman batu, ingin tunggal dan anarkis atas nama demokrasi.

Mari biarkan saja perdebatan itu berlangsung. Ada akun narsis, romantis bahkan akun sinis , akun nasi bungkus dan akun pepesan kosong yang tempo hari menjamur. Biarkan saja berjalan dengan logika dan kecenderungan masing-masing. Akan terjadi seleksi alam, dialektika yang adil dan fair juga mendewasakan. Bukan sebaliknya, dialog berlangsung anarkis bahkan kekanak-kanakkan. (*)

Dibaca : 2000 kali

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.