Beranda / Green

Selamatkan Brantas


13572628882025294636

Sumber: Sungai brantas : diambil dari http://fordaskotabatu.wordpress.com/2012/03/30/

Konon dalam Serat Calon Arang Empu Barada atas titah Baginda Airlangga membagi wilayah kekuasaan kedua putra Airlangga yaitu dengan air suci dari Gunung Mahameru. Dikisahkan, Mpu Bharada terbang sambil mengucurkan air kendi. Ketika sampai dekat desa Palungan, jubah Mpu Bharada tersangkut ranting pohon asam. Ia marah dan mengutuk pohon asam itu menjadi kerdil. Oleh sebab itu, penduduk sekitar menamakan daerah itu Kamal Pandak, yang artinya "asem pendek. Selesai menetapkan batas Kerajaan Kadiri dan Janggala berdasarkan cucuran air kendi, Mpu Bharada mengucapkan kutukan, “barang siapa berani melanggar batas tersebut hidupnya akan mengalami kesialan”. Dan di kemudian hari bekas cucuran air kendi ini dinamakan Sungai Brantas.

Sungai Brantas bermata air di Desa Sumber Brantas menurut Muhammad Yamin daerah tersebut tempat Gajah Mada berasal , letaknya dekat Kota Batu saat ini. Air yang berasal dari simpanan air Gunung Arjuno dan Welirang, lalu mengalir ke Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto. Di Kabupaten Mojokerto sungai ini bercabang dua manjadi Kali Mas (ke arah Surabaya) dan Kali Porong (ke arah Porong, Kabupaten Sidoarjo).Kondisi Sumber Brantas sangat kontras sekali dengan fungsinya sebagai sumber mata air bagi 60% penduduknya yang di zaman Mataram disebut dengan Bang-bang Wetan. Areal ladang dan pabrik jamur terhampar luas dan berdiri megah menggantikan hutan yang seharusnya ada sebagai daya serap sumber mata air.

Sungai Brantas pada zaman kerajaan Hindu di Jawa Timur berfungsi sebagai jalur pelayaran dan perdagangan. Cerita pada Keberadaan pelabuhan sungai di sepanjang tepian Bengawan Brantas terekam dalam Prasasti Canggu (1280 Çaka/1358). Pada lempeng ke-5 disebutkan nama-nama desa pelabuhan (naditira pradeça) di tepi Bengawan Brantas. Sayang lempeng ke-4 dari prasasti ini belum dapat ditemukan yang berisi nama-nama pelabuhan sungai di bagian hulu, maka jumlah pelabuhan di tepi Bengawan Brantas dapat ditelusuri lebih lengkap dari daerah hulu hingga hilir serta lebih banyak lagi jumlahnya. Adapun nama desa-desa pelabuhan di dalam Prasasti Canggu (1280 Çaka) di lempeng 5 adalah sebagai berikut:

Nusa, di Temon, Parajengan, di Pakatekan, di Wunglu, di Rabut Ri, di Banu Mrdu, di Gocor, di Tambak, di Pujut,di Mireng, di Dmak, di Klung, di Pagdangan, di Mabuwur, di Godong, di Rumusan, di Canggu, di Randu Gowok, di Wahas, di Nagara,di Sarba, di Waringinpitu, di Lagada, di Pamotan, di Tulangan, di Panumbangan, di Jruk, di Trung, di Kambang Çri, di Tda, di Gsang, di Bukul, di Çurabhaya.

Dari satu lempengini saja sudah ada 32 pelabuhan di tepi sungai kalau bisa dibandingkan dengan saat ini sama dengan terminal bis sebagai sarana angkutan. Bisa dibayangkan betapa ramai dan krusial fungsi sungai Brantas. Prasasti Canggu pada dasarnya Raja memberikan apresiasi kepada. desa-desa itu diberi kedudukan semacam perdikan dan bebas dari kewajiban membayar pajak, tetapi diwajibkan memberi semacam sumbangan untuk kepentingan upacara keagamaan dan diatur oleh Panji Margabhaya Ki Ajaran Rata, penguasa tempat penyeberangan di Canggu, dan Panji Angrak saji Ki Ajaran Ragi, penguasa tempat penyeberangan di Terung. Masyarakat dan penjaga pelabuhan diberikan pembebasan pajak dikarenakan turut serta menjaga kelestarian , keamanan pelabuhan dan fungsi Bengawan Brantas sebagaimana mestinya. Penggambaran yang luar biasa atas kesatuan lembaga pemerintahan dan rakyat dalam menjaga kelestarian sungai.

Penggambaran itu juga disebutkan dalam prasasti Prasasti Kamalagyanpada tahun ( 959 Saka/1037 M) di daerah Tropodo Krian yang isinya menyebutkan dibagunnya sebuah bendungan DAM dan pembangunan aliran air di Wringin Sapto oleh Raja Airlangga bersama-sama dengan rakyat. Sebelum bendungan itu dibangun, dikatakan bahwa sungai Brantas selalu banjir dan airnya meluap ke beberapa Desa dan tanah Perdikan. Untuk menjaga dan memelihara bangunan bendungan tersebut, ditetapkanlah Desa Kemalagyan (Kemalagean) untuk menjadi Daerah Perdikan atau daerah bebas pajak. Selesailah sudah pembuatan bendungan oleh raja, kukuh kuat sehingga terbendunglah aliran sungai, dan kini aliran Sungai Brantas dipecah menjadi tiga ke arah utara. Bersukacitalah mereka yang berperahu ke arah hulu, mengambil dagangan di Hujung Galuh ( Muara Kali Mas Sekarang ), termasuk para pedangang dari pulau-pulau lain yang berkumpul di Hujung Galuh.

Penduduk desa yang sawahnya kebanjiran dan hancur, amat bersenang hatinya sekarang, karena sawah-sawah mereka dapat dikerjakan lagi berkat bendungan yang dibuat oleh raja. Oleh karena itu, bendungan di Wringin Sapta itu mereka sebut bendungan Sri Maharaja. Akan tetapi, kemudian raja berpikir akan kemungkinan banyaknya orang yang hendak menghancurkan karya besar itu. Oleh karena itu, raja memerintahkan agar penduduk Desa Kamalagyan  dengan kalagyaninya yang tinggal ditanah-tanah sekitar bendungan itu sebagai penjaga, untuk mengantisipasi semua orang yang hendak menghancurkan bendungan itu. Kebijaksanaan dari seorang pemimpin yang selalu bervisi menyejahterahkan rakyat selalu tidak lepas dari aspek memperlakukan alam lingkungan sekitar dan akibatnya jika mengabaikannya.

pada 1614, pasukan Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Suratani, mendirikan pusat komandonya sekaligus mengordinasikan serangan Mataram ke daerah timur. khusus terus merongrong kekuasaan Surabaya. Serangan ke Surabaya selalu berbuah kekalahan. Tumenggung Suratani memerintahkan Tumenggung Alap-Alap merebut daerah taklukan Surabaya yaitu Mojokerto, Lumajang dan Renong. Menyerang terlebih dahulu kota-kota satelit di sekitar Surabaya agaknya bertujuan untuk memutus jalur logistik ke Surabaya. Sebagai kota pelabuhan, Surabaya menggantungkan dirinya kepada daerah-daerah pedalaman untuk suplai berbagai kebutuhan sehari-hari. Bahkan kebutuhan atas air pun diambil dari kali Mas, salah satu dari dua cabang kali pecahan aliran Sungai Brantas yang melintasi Mojokerto.

Tumenggung Mangun Oneng yang diberi mandat memimpin serangan setelah kematian Tumenggung Suratani ke Surabaya kali ini melancarkan taktik “bendungan Jepara” untuk menyumbat aliran sungai Brantas yang menjadi sumber air bagi penduduk Surabaya. Teknik pembendungan tersebut menggunakan berbatang pohon kelapa dan bambu yang diletakkan membentang di dasar sungai sampai dengan permukaannya. Setelah air tersumbat dan hanya mengalir sedikit saja, pasukan Mataram menceburkan bangkai binatang dan berkeranjang buah aren. Bangkai menyebabkan air berbau busuk sementara buah aren menimbulkan gatal-gatal yang luar biasa hebatnya.

Air yang tercemar itu menyebabkan penduduk Surabaya terkena wabah penyakit batuk dan gatal-gatal. Taktik yang mendatangkan penderitaan bagi rakyat Surabaya itu sampai ke telinga raja. Sebuah pertemuan digelar oleh kalangan istana Surabaya tapi raja terlalu malu untuk memaklumkan kekalahannya pada Mataram. Maka diutuslah Pangeran Pekik, putra sang raja, beserta seribu tentara Surabaya untuk menemui Tumenggung Mangun Oneng. Melalui Demang Urawan, surat maklumat kekalahan Raja Surabaya disampaikan kepada Tumenggung Mangun Oneng. Menurut catatan VOC sebagai mana dikutip De Graaf, Surabaya dinyatakan kalah pada 27 Okotober 1625. Begitu tergantungnya Kota Surabaya akan keberadaan Sungai Brantas tidak terelakkan. Sejarah telah membuktikannya dan sudah selayaknya warga Kota Surabaya serta warga di daerah aliran sungai Brantas menyadari hal ini. Tidak menutup kemungkinan kejadian sejarah terulang lagi namun dalam dimensi yang lain yaitu ketika air sungai nya surut di karenakan resapan air yang berkurang serta pembuangan limbah pabrik yang melebihi batas akan mengakibatkan penyakit masal di Kota Surabaya.

Maka Akibat pendangkalan dan debit air yang terus menurun sungai ini tidak bisa dilayari lagi. Fungsinya kini beralih sebagai irigasi dan bahan baku air minum bagi sejumlah kota disepanjang alirannya. Permasalahan pokok di DAS Kali Brantas adalah fluktuasi air permukaan yang ditandai oleh dua peristiwa: kekeringan di musim kemarau dan banjir di musim hujan. Kegagalan panen dan kelaparan menjadi akibat dari kekurangan air di musim kemarau, sebaliknya di musim hujan terjadi bencana yang mengakibatkan korban harta bahkan jiwa. Selain itu, kondisi aliran air Kali Brantas juga terkendala oleh endapan sedimen yang dihasilkan letusan Gunung Kelud ( 1.781mdpl ). Setiap 10 hingga 15 tahun, gunung ini meletus – melontarkan abu dan batu piroklastik ke bagian tengah dari DAS Kali Brantas – yang pada akhirnya menimbulkan gangguan fluvial pada aliran air Sungai Brantas.

Pertumbuhan daerah Industri di sekitar daerah aliran sungai merubah daerah pertanian telah menjadikan permasalahan sendiri. Pembuangan limbah-limbah beracun terus menerus terjadi dan hal tersebut di dukung warga sekitardengan mengijinkan sungai-sungai kecil yang bermuara di sungai Brantas menjadi tempat pembuangan limbah karena adanya bentuk kopensasi yang tidak senilai dengan kerusakan lingkungan yang terjadi. Sungai Brantas yang legendaris ini pun sudah tidak lagi seindah cerita dulu. Di muara sungai sudah sering terjadi keracunan ikan secara masal hingga bangkai ikan mengapung di atas sungai serta eceng gondok tumbuh menandakan tingginya kadar polutan kimia yang ada di air tersebut.Ironisnya penduduk surabaya memanfaatkan airnya untuk segala keperluannya. Sepertinya kehancuran Kota Surabaya atas tingginya polutan kimia yang di buang pelaku Industri dan lainnya tinggal menunggu waktu. Sejarah Tahun 1614 sudah memberikan pelajaran bagaimana vitalnya sungai Brantas dan Kutukan Mpu Bharada atas masyarakat sekitar Brantas akan menyusul juga karena telah berbuat melebihi batas atas kelestarian Sungai Brantas.

Ada baiknya merenungi pepatah kuno suku Indian :

Jika ikan terakhir telah mati

Jika sungai terakhir telah hilang

Jika pohon terakhir telah tumbang

Maka manusia baru sadar apa arti uang

Agung Hikam DASS FAST, Alumni GP 1 - 12


Dibaca : 959 kali
Penulis : Agung Pribadi
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.

Back to Top | View Full Site