Mohon tunggu...
Imam Kodri
Imam Kodri Mohon Tunggu... - -

Formal Education Background in UPDM (B) Of Bachelor’s Degree of Politics and Social Science, majoring of Public Administration and Master Degree, Majoring of Human Resources. Worked in various private companies over 30 years, such as: PT. Pan Brothers Textile as HRD Assistant Manager, PT. Sumber Makmur as HRD Manager, General Personnel Manager at PT. Bangun Perkarsa Adhitamasentra, Senior Manager of HRD and General affair at PT. Indoraya Giriperkarsa, Headmaster of Kelapa Dua High School, and the last, Head of the General Bureau and Human Resources at ISTN Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Politik featured

Ungkap Kasus Soeharto 1965/1966

17 Agustus 2015   11:48 Diperbarui: 21 Juli 2016   07:20 7541
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto diambil pada 30 Oktober 1965, sebulan setelah kudeta yang gagal oleh Partai Komunis Indonesia. Tentara berjaga di atas truk yang mengangkut tahanan aktivis Pemuda Rakyat. AP Photo

Rupanya kualat Soeharto masih panjang walaupun sudah berada dialam kubur tuntutan rakyat dan negara kepada nya masih saja jalan terus, bermacam bentuknya mulai dari kasus kejahatan pelanggaran HAM,sampai dengan kejahatan tindak pidana korupsi. Sepanjang Tap MPR RI No. XI/MPR/1998 belum dihapus maka sampai kapanpun beban dosa dunia masih menjeratnya, walaupun ia sudah berada dialam kuburnya.

Dalam tulisan dibawah ini saya tidak akan mengungkap kembali kasus yang berkenaan dengan korupsi cendana Karena baru saja negara melalui Kejaksaan Agung memenangkan gugatan sekitar Rp 4,4 triliun atas ahli waris mendiang mantan Presiden Soeharto dan Yayasan Supersemar lewat putusan peninjauan kembali (PK) di Mahkamah Agung (MA). Di tulisan ini hanya sedikit membuka kembali sejarah kelam Soeharto ketika sang jenderal besar ini berhasil melengserkan Presiden Soekarno dengan caranya yang yang penuh dengan taktik trik politik yang mencekik.

Perstiwanya di 1965/1966 demikian chaos, penuh dengan konflik politik dan fisik, adalah tahun-tahun kesemrawutan hampir semua sisi kehidupan, akan tetapi disatu sisi merupakan kemujuran bagi seorang Soeharto karena pintar akal licik dan ahli trik. Seorang yang berasal dari trah rakyat biasa namun mampu menduduki tahta singgasana kepresidenan di republik ini. Singgasana yang didapat bukan dengan secara demokratis, akan tetapi lebih tepat disebut dengan merebut dengan dengan cara licik dan menusuk dari belakang.

Keberuntungan Soeharto juga diperoleh dari dukungan eksternal yang berkepentingan untuk membubarkan paham komunis dan menggulingkan rezim Soekarno yang dinilai melawan dominasi barat AS di Indonesia. Gerakan sejuta aksi Mahasiswa dan Pelajar hanya sebagai alat atau kuda tunggangan yang dimanfaatkan Soeharto untuk mencapai kursi singgasana keperesidenan.

Ia memang dikenal cerdas, dan ahli strategi , dengan kecerdasannya dan kelicikannya mampu menggerakan ratusan ribu mahasiswa dan pelajar diseluruh Indonesia khususnya yang berada si Ibu Kota Jakarta. Anehnya mahasiswa dan pelajar saat itu nurut apa maunya Soeharto, ribuan jaket kuning dibagi-bagikan gratis oleh Soeharto menggerakan seluruh aksi mahasiswa didukung tentara-tentara Soeharto yang dilengkapi dengan pasukan panser-panser untuk memberikan dukungan penuh kepada para demontran.

Ribuan tentara Soeharto bercampur baur dengan mahasiswa/pelajar memenuhi jalan-jalan di seluruh jalan Ibu Kota Jakarta, suasana menjadi sangat tak terkendali, mereka melakukan apa saja yang bersifat merusak terutama yang berada di jalan-jalan protokol. Tidak lagi terlihat berseliweran kendaraan umum karena pelaku demo akan mengempeskan semua ban mobil tanpa kecuail. Tak dapat dibayangkan saat itu seluruh aktifitas ibu kota mandeg segala jalan-jalan macet total.

Soeharto memang hebat dengan memakai baju Tri Tura ia menjadi arsitek ulung dalam memotori gerakan masif dan terstruktur. Mahasiswa seperti dininak-bobokan, bahkan markas KOSTRAD yang seperti biasanya sangat angker dan menakutkan, disaat itu justru sebaliknya. Para Mahasiswa keluar masuk dengan bebasnya, KOSTRAD beralih fungsi dijadikan PosKomandonya para Mahasiswa. Ini memang sangat aneh tetapi nyata. Mahasiswa dijadikan alat, sebagai kuda tunggangannya Soeharto.

Sudah diperhitungkan dengan matang sebagai langkah awal strategi dan kelicikan Soeharto untuk menjatuhkan Presiden Soekarno. Dalam strategi dan kelicikan Soeharto itu, ternyata bukan hanya mahasiswa yang bisa diperalat, Pangdam V Jaya saat itu Brigjen Amir mahmud dengan keterpaksaan, kemungkinan besar pertimbangan menghindari konflik antar satuan, sengaja masuk dalam perangkap Soeharto. Amir Mahmud diminta Soeharto untuk melaporkan kepada Presiden bahwa kondisi Ibukota aman.

Amir Mahmud segera memberikan informasinya kepada Presiden serta memberikan jaminan keamanan kepada Presiden Soekarno dipersilahkan mengadakan sidang-sidang dengan para menteri-menterinya untuk mengadakan pembahasan terkait Tri Tuntutan Rakyat. Apakah tuntutan para mahasiswa akan dipenuhinya atau ditolaknya. Namun sesungguhnya langkah Soeharto adalah suatu jebakan jahat untuk menjerumuskan Presiden Soekarno kedalam lobang kejatuhannya.

Secara diam-diam Soeharto memerintahkan pasukan gelap yang merupakan pasukan pendukung setianya untuk melakukan teror kepada Presiden Soekarno dan menteri-menterinya. Sehingga dalam kondisi dibawah tekanan dan todongan senjata, Presiden Soekarno dipaksa tidak dapat mengambil keputusan apapun terkait Tri Tura, terutama pada poin yang paling dianggap krusial yaitu tuntutan “pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI)”. Kegagalan Presiden Soekarno untuk memenuhi tuntutan mahasiswa, kemudian dijadikan alasan oleh Soeharto bahwa Presiden Soekarno terlibat dalam Gerakan 30 September PKI.

Sementara gerakan mahasiswa di sekitar Istana semakin bertambah besar dan sporadis disisi lain tentara gelap Soeharto terus menerus menodongkan senjatanya di muka Presiden Soekarno, sehingga menjadi bertambahnya suasana sangat tidak kondusif dan mencekam di dalam istana. Dengan alasan keamanan akhirnya rapat kabinet dibubarkan dan Presiden diungsikan ke Istana Bogor untuk melanjutkan rapat kabinet yang sedianya akan memutuskan TriTura sesuai dengan tuntutan rakyat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun